Sarapan pagi yang tertunda

Selesai acara simbolis gerakan penanaman 5 juta pohon, acara dilanjutkan dengan sarapan pagi. Sayangnya, terjadi sedikit miss komunikasi antara peserta dan panitia sehingga sebagian peserta termasuk kita tidak kebagian makan. Kita cuma dapat 9 dus dari 40 kupon makan yang kita sodorkan. Hiks..hiks.. Akhirnya sambil menahan lapar, kita kembali ke wisma karena dijanjikan akan dikirim secepatnya. Untuk Panitia, tak apa-apa kok, ini bukan cuma kesalahanmu, tapi sebenarnya karena mentalitas peserta yang terbiasa di lapangan, jadilah mereka sama seperti kulinya. Hehe..

Sekitar jam setengah 11 ketika kita masih kelaparan, kita dipanggil untuk mulai lomba tarik tambang. Mungkin karena sebagian teman-teman marah menahan lapar, kita malah bisa melewati babak penyisihan dan perempat final walaupun akhirnya kalah dari BPC Gapensi Wonogiri. Ternyata lapar ada hikmahnya juga.

Alhamdulillah, selepas tarik tambang makanan datang. Dan alhamdulillah lagi, yang ini justru masih bener-bener baru, masih anget tidak seperti yang diterima pagi tadi. Konon sudah mulai basi!..

Lomba diteruskan dengan paintball shooting, permainan yang paling kita gemari walaupun kalah meriah dari tarik tambang. Sayang, tim Kebumen A langsung tumbang dari mBanyumas. Lomba dilanjutkan ke lapangan volley.

Dan inilah yang paling menjemukan. Menunggu dalam terik matahari karena lawan yang tak kunjung nongol. Tapi lagi-lagi ada hikmahnya juga. Setelah lebih dari se jam menunggu, akhirnya kita langsung ke semifinal karena 2 lawan kita sudah kadung kembali ke wisma!.

Hujan akhirnya merubah rencana

Setelah volley mendapat kartu gratis sampai semifinal, giliran kita menunggu paintball tim Kebumen B. Sewaktu pas giliran main, tiba-tiba hujan turun dengan sangat deras. Akhirnya semua berlarian kocar-kacir menyelamatkan diri dan seluruh lomba akhirnya ditunda. Sambil menunggu reda, peserta menikmati joget dangdut dipanggung. Jadilah panggung menjadi arena joget dengan uang sawer yang tak tanggung-tanggung. Ngga ada duit dibawah seratusan ribu sekali kasih!

Rencananya, saya akan pulang sore ini, tetapi karena tertundanya lomba, terpaksa saya harus menemani teman-teman sampai selesai.

Masih gerimis dan belum lama beristirahat di wisma, tiba-tiba kami harus kembali ke lapangan karena harus meneruskan permainan paintball. Padahal lapangan penuh air! Tapi apa boleh buat, kami akhirnya bermain juga. Game pertama kami bisa mengatasi Gapensi Jepara, tetapi pada game kedua kami menyerah pada Temanggung kalau tidak salah.

Malam minggu yang melelahkan

Setelah paintball, kami kembali ke wisma. Karena pakaian yang sangat kotor, terpaksa kami masuk kamar dengan melompat lewat tembok kamar belakang agar tidak mengotori lantai lobi. Setelah mandi kami menghangatkan badan dengan makan duren bareng. Setelah makan malam, kami memutuskan untuk turun ke kota, Menikmati malam sembari bikin fresh dengan pijat.

Berempat kami kendarai Nissan Terano menuju Johar. Mas Larso teman kami yang sangat berpengalaman menuntun kami ke Wisma Enggar, tempat pijat di kawasan jalan Pemuda. Cukup pijat, kami lanjutkan dengan berziaroh ke kawasan paling terkenal di Semarang, yaitu kawasan ziaroh Sunan Kuning. Kami cuma muter-muter dan melihat-lihat, tak lebih. Tak lebih dari setengah jam, kami melanjutkan perjalanan. Yang kami tuju adalah tempat karaoke bernama Xmovie di daerah Tembalang.

Jam 11 malam ketika kami masuk dan jam 3 kami keluar setelah kami puas dan mulai ngantuk. Di sinipun kami cuma minum sama nyanyi, tak lebih. Disamping refreshing, semua demi memuaskan Bos Acong, yang dalam perjalanan pulang terpaksa menjadi sopir karena Bang Pedro yang tadi menjadi sopir sudah teler karena banyak minum.

Jam setengah 4 kami sampai di kamar. Suasana sudah sangat senyap. Setelah mencuci muka, saya sempat nonton tv sebentar. Tetapi kesunyian wisma membuat saya tiba-tiba merinding. Sepertinya memang ada setan di wisma Sumbing III ini.

Bersambung lagi..

About Suhar

NAUFAL FIKRI, nama asli pemberian orang tuaku. Aku lahir di Kebumen, dari ibuku yang asli kampung Bojong Panjer Kebumen. Bapakku asli wong ndeso dari kampung Bulugantung, Peniron, Kebumen. Perpaduan asal Bapak Ibuku mudah-mudahan bisa membawa aku menjadi pribadi yang bisa memadukan nilai-nilai positif dari kota dan desa. Sederhana, jujur dan berwawasan.

Tinggalkan Komentar

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s